Jumat, Maret 12, 2010

Alun Alun Pamekasan


Kabupaten Pamekasan lahir dari proses sejarah yang cukup panjang. Nama Pamekasan sendiri baru dikenal pada sepertiga abad ke 16, ketika Ronggo Sukowati mulai memindahkan pusat pemerintahan dari kraton Labangan Daja ke kraton Mandilaras. Memang belum cukup bukti tertulis yang menyebutkan proses perpindahan pusat pemerintahan sehinga terjadi perubahan nama wilayah ini.

Begitu juga munculnya sejarah pemerintahan di Pamekasan sangat jarang ditemukan bukti-bukti tertulis apalagi prasasti yang menjelaskan tentang kapan dan bagaimana keberadaannya. Munculnya sejarah Pemerintah Lokal Pamekasan, diperkirakan baru diketahui sejak pertengahan abad ke lima belas (15) berdasarkan sumber sejarah tentang lahirnya mitos atau legenda Aryo Menak Sumoyo yang mulai merintis Pemerintahan Lokal di daerah Proppo atau Parupuk Jauh sebelum munculnya legenda ini, keberadaan Pamekasan tidak banyak dibicarakan. Diperkirakan Pamekasan merupakan bagian dari pemerintahan Madura dan Sumenep, yang telah berdiri sejak pengangkatan Arya Wiraraja pada tanggal 13 Oktober 1268 oleh Kertanegara.

Jika pemerintahan lokal Pamekasan lahir pada abad 15, tidak dapat disangkal bahwa Kabupaten ini lahir pada zaman kegelapan Majapahit yaitu pada saat daerah-daerah pesisir di wilayah kekuasaan Majapahit mulai merintis berdirinya pemerintahan sendiri. Berkaitan dengan sejarah kegelapan Majapahit tentu tidak bias dipungkiri tentang kemiskinan data sejarah karena di Majapahit sendiri dalam penataan untuk mempertahankan bekas wilayah pemerintahannya sangat padat kegiatan dengan luas wilayah yang sangat besar.

Saat itu sastrawan-sastrawan terkenal setingkat Mpu Prapanca dan Mpu Tantular tidak banyak menghasilkan karya sastra, sedangkan kehidupan masyarakat Madura sendiri, nampaknya lebih berkembang sastra lisan dibandingkan dengan sastra tulis Graaf (2001) menulis bahwa orang Madura tidak mempunyai sejarah tertulis dalam bahasa sendiri mengenai raja-raja pribumi pada zaman pra-Islam.

Tulisan- tulisan yang kemudian mulai diperkenalkan sejarah pemerintahan Pamekasan ini pada awalnya lebih banyak ditulis oleh penulis Belanda sehingga banyak menggunakan bahasa Belanda kemudian mulai diterjemahkan atau ditulils kembali oleh sejarawan Madura, seperti Zainal Fatah ataupun Abdurrahman. Memang masih ada bukti-bukti tertulis lainnya yang berkembang di masyarakat, seperti tulisan pada daun-daun lontar atau layang Madura, namun demikian tulisan pada layang inipun lebih banyak menceritakan sejarah kehidupan para Nabi (Rasul) dan sahabatnya, termasuk juga ajaran-ajaran agama sebagai salah satu sumber pelajaran agama bagi masyarakat luas.

Masa pencerahan sejarah lokal Pamekasan mulai terungkap sekitar paruh kedua abad ke-16, ketika pengaruh Mataram mulai masuk di Madura, terlebih lagi ketika Ronggo Sukowati mulai mereformasi pemerintahan dan pembangunan di Wilayahnya. Bahkan, raja ini disebut-sebut sebagai raja pertama di Pamekasan yang secara terang-terangan mulai mengembangkan Agama Islam di kraton dan rakyatnya. Hal ini diperkuat dengan pembuatan jalan se jimat ,yaitu jalan-jalan di alun-alun kota Pamekasan dan mendirikan masjid Jamik Pamekasan. Namun demikian, sampai saat ini masih belum bisa diketemukan adanya inskripsi ataupun prasasti pada beberapa situs peninggalannya untuk menentukan kepastian tanggal dan bulan pada saat pertama kali ia memerintah Pamekasan.

Bahkan zaman Pemerintahan Ronggo Sukowati mulai dikenal sejak berkembangnya legenda Kyai Joko Piturun, pusaka andalan Ronggo Sukowati yang diceritakan mampu membunuh Pangeran Lemah Duwur dari Arosbaya melalui peristiwa mimpi. Padahal temuan ini sangat penting karena dianggap memiliki nilai sejarah untuk menentukan hari jadi kota Pamekasan.

Terungkapnya sejarah Pemerintahan di Pamekasan semakin ada titik terang setelah berhasilnya invasi Mataram ke Madura dan merintis pemerintahan lokal di bawah pengawasan Mataram. Hal ini dikisahkan dalam beberapa karya tulis seperti Babad Mataram dan Sejarah Dalem serta telah adanya beberapa penelitian sejarah oleh sarjana Barat yang lebih banyak dikaitkan dengan perkembangan sosial dan agama, khususnya perkembangan Islam di Pulau Jawa dan Madura, seperti Graaf dan TH. Pigland tentang kerajaan Islam pertama di Jawa dan Banda tentang Matahari Terbit dan Bulan Sabit.

Sumber : pamekasan.go.id

Minggu, Oktober 18, 2009

Trik mengatasi virus tanpa terinveksi

Terkadang kita dalam membasmi virus di komputer seringkali memakai media flashdisk-memory atau HDD eksternal yg kita punya (yg didalamnya ada anti virus yg kita rasa mampu membasmi virus di komputer tujuan), tapi virus jaman sekarang ini begitu kita mencolok media penyimpanan kita ke kompi tujuan..eh keinveksi duluan yg mengakibatkan anti virus kita yg terdapat dimedia kita gak mau jalan atau terinstal.

Untuk mengakalinya caranya mudah saja :

1.Cukup dengan mengcopy tools2 antivirus kita ke media cd atau dvd..dijamin sivirus gak bakalan bisa menginveksinya..coz belum ada satupun virus kompi (sejauh pengetahuan saya) yg bisa menginject dirinya ke dalam media cd atau dvd (kecuali file yg kita burn di cd-dvd tersebut udah keinveksi duluan).

2.Koneksikan kompi yg bersih dari virus dan yg mempunyai antivirus ter-update melalui media LAN dengan kompi yg akan kita scan. Setelah konek kedu2nya, sharing semua partisi di kompi yg terinveksi dan scanning melalui kompi yg bebas virus yg memiliki antivirus ter-update! sampai selesai.(kalau saya pribadi pakai antivirus Kaspersky ver.7 crack).

3.Khusus partisi c: di kompi terinfeksi, gak smua file system bisa di sharing. tapi sebagian besar (80-90%) bisa di sharing, jadi saran saya setelah semua proses scanning selesai, instal antivirus ter-update di kompi target setelah itu scan kembali partisi c: sampai selesai.

Selamat mencoba.......!semoga bisa membantu...!

Jumat, Juli 10, 2009

32 Mahasiswa Terinfeksi HIVAIDS di SULUT

Manado, (tvOne)

Sebanyak 32 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi positif terinfeksi HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome) di Sulawesi Utara (Sulut).
"Para mahasiswa tersebut terus dalam pemantauan dan pendampingan tim dari Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) dan para konselor, "kata Pengelola Program KPAP Sulut, Jones Oroh di Manado, Jumat.

Ia menjelaskan, para mahasiswa itu ada yang sudah mengkonsumsi obat-obatan, sebaliknya ada juga belum karena sel sistem pertahanan tubuh atau CD4 masih tinggi. Penderita penyakit tersebut harus mengkonsumsi obat seumur hidup, walaupun kondisi sistem pertahanan tubuh dari waktu ke waktu terus membaik.

Oroh juga menjamin para mahasiswa itu tidak akan menjangkiti orang, karena kondisinya terus terpantau oleh para penasihatnya. Diharapkan para mahasiswa berani melakukan Voluntary Counseling and Testing (VCT), supaya bisa memastikan diri sehat, dan tidak kuatir soal kesehatan. "Kunjungi VCT di RSU Kandou, RSU Ratumbuysang, RSU Wolter Mongisidi dan RSU Pancaran Kasih, disana bisa diketahui bagaimana VCT itu, dan jika siap bisa melakukannya,"katanya.

Sementara itu, Deasy Waworuntu, konselor dari KPAP Sulut, menambahkan, dari jumlah mahasiswa tersebut, 16 orang positif HIV dan 16 orang AIDS. "Penderita HIV/AIDS harus bisa mengubah pola hidup, jangan lagi merokok bagi perokok, menghilangkan kebiasaan minum minuman keras, tidak lagi tidur larut malam, dan mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi, supaya CD4 tubuh bisa naik lagi,"katanya.

Rabu, Juli 08, 2009

petani tembakau

Tandon Air untuk Petani

PAMEKASAN-Petani tembakau tidak perlu resah lagi jika nantinya mengalami kekurangan air. Sebab, Pemkab Pamekasan melalui dinas perdagangan dan perindustrian (disperindag) akan memberi bantuan tandon air. Bantuan itu akan tersebar di daerah-daerah yang rawan air. Dana pembuatan tandon berasal dari dana bagi hasil cukai.

Tandon akan dilengkapi sarana pendukung lainnya. Sehingga, saat musim kemarau tandon bisa multifungsi. Selain digunakan untuk menampung air, juga untuk menyiram tembakau. Pada musim hujan tandon dapat digunakan untuk kebutuhan air bersih bagi warga di sekitar.

Kepala Disperindag Atok Suharyanto mengatakan, pengadaan tandon untuk petani tembakau itu hanya merupakan salah satu dari program dana bagi hasil cukai. "Program dana bagi hasil cukai yang sudah berjalan, yakni kunjungan kerja dan serap informasi ke pabrik rokok di Jawa," ujarnya.

Serap informasi ke pabrik rokok telah dilaksanakan pada April lalu. Pabrik-pabrik rokok yang dikunjungi, antara lain Djarum (Kudus), Nojorono (Malang), Sukun (Malang), Gudang Garam (Kediri), Bentoel (Malang). Selain itu ke Sampoerna dan Wismilak (Surabaya).

Dijelaskan, serap informasi itu bertujuan agar pemkab mengetahui kebutuhan tembakau pabrik rokok. Sehingga, nantinya pabrikan bisa membeli habis tembakau masyarakat.

Mengenai pengadaan tandon air, menurut Atok, menjadi perhatian serius disperindag. Sebab, tandon sangat dibutuhkan oleh petani. Selama ini petani masih menggunakan cara tradisional untuk menampung air. Mereka menggunakan bedeng yang dibuat seperti kolam dan di atasnya beri kain terpal untuk menampung air hujan.

"Cara ini sangat merugikan petani. Sebab, air cepat menguap dan kalau ada yang bocor sulit diketahui," kata Atok.

Atok menjelaskan, program dana bagi hasil cukai yang disalurkan lewat disperindag dialokasikan untuk kepentingan yang langsung menyentuh kepada petani maupun pengusaha rokok di Kabupaten Pamekasan. "Banyak sekali program yang langsung menyentuh ke masyarakat, antara lain pembuatan tandon air ini," katanya.

Sementara program sosialisasi dana bagi hasil cukai, antara lain penerapan ketentuan hak kekayaan intelektual (Haki), pembinaan dan pengawasan terpadu rokok ilegal, dan pembinaan terhadap industri rokok yang belum bercukai untuk merangsang perusahaan rokok supaya bercukai.

Selain itu, penyediaan tembakau bagi industri kecil rokok sekaligus membantu penyerapan tembakau petani, pelatihan teknis dan keterampilan industri kecil rokok untuk peningkatan dan pengembangan manajemen usaha, pendataan industri hasil tembakau. Lalu, pengadaan timbangan duduk elektrik dan sarana produksi serta kemasan rokok. (Radar)